Selasa, 12 Oktober 2010

Kualitas Hidup

1. Pengertian Kualitas Hidup
Kualitas hidup merupakan suatu model konseptual, yang bermaksud untuk menggambarkan perspektif pasien dengan berbagai istilah, di mana pengertian kualitas hidup ini akan berbeda bagi orang sakit dan orang sehat (Farquahar dan Bowling, 1995 dalam Agustianti, 2006).
Menurut Cella, ada dua komponen dasar dari kualitas hidup yaitu subjektivitas dan multidimensi. Subjektivitas mengandung arti bahwa kualitas hidup hanya dapat ditentukan dari sudut pandangan pasien saja dan ini dapat diketahui dengan hanya bertanya langsung kepada pasien. Multidimensi mengandung arti bahwa kualitas hidup dipandang dari seluruh aspek kehidupan seseorang secara holistik meliputi aspek biologis, fisik, psikologis/emosi, sosiokultural, dan spiritual (Kinghorn dan Gamlin, 2001 dalam Agustianti, 2006).
Kualitas hidup mempunyai pengertian yang bersifat subjektif atau individual, Kualitas hidup terdiri dari berbagai aspek kehidupan serta dipengaruhhi oleh pengalaman hidup seseorang dan bagaimana cara pandangnya terhadap pengalaman hidup yang telah dilewatinya tersebut sehingga akan memberikan perasaan senang dan puas di masa yang akan datang (Agustianti, 2006).
2. Dimensi Kualitas Hidup
Menurut Cella, kualitas hidup seseorang dapat diukur melalui empat dimensi utama yaitu kesejahteraan fungsional, fisik, psikologis/emosional, dan sosial (Kinghorn dan Gamlin, 2001 dalam Agustianti, 2006).
a. Kesejahteraan Fungsional
Kesejahteraan fungsional yaitu kemampuan seseorang utnuk berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari meliputi bekerja, melakukan transaksi di bank, belanja, belajar, membersihkan rumah, merawat diri, berpakaian, menyiapkan makanan, dan toileting (Nies, 2001 dalam Agustianti, 2006). Akibat penyakit yang diderita ODHA sehingga memiliki kemampuan terbatas dalam melakukan kegiatan tersebut, sehingga memerlukan bantuan (dukungan sosial) dari berbagai pihak.
b. Kesejahteraan Fisik
Kesejahteraan fisik adalah kemampuan organ tubuh untuk berfungsi secara optimal sehingga dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Agustianti, 2006). Adanya infeksi HIV yang menyerang sistem imun seseorang sehingga berdampak pada kesehatan fisiknya.
c. Kesejahteraan Psikologis/Emosional
Kesejahteraan psikologis/emosional adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan perasaan senang danpuas terhadap suatu peristiwa atau kejadian yang dialami dalam kehidupan seseorang sehingga terhindar dari timbulnya masalah-masalah psikologis. Kondisi emosional ODHA yang tidak stabil karena adanya berbagai keterbatasan membuat ODHA merasa frustasi/kecewa dan akhirnya menimbulkan masalah depresi. Selain masalah depresi yang merupakan masalah psikologis terbesar pada ODHA adalah kecemasan, paranoid, mania, iritabel, psikosi, dan penggunaan obat-obatan. Berbagai masalah psikologis ini akan mempengaruhi kemampuan ODHA untuk berpartisipasi secara penuh dalam pengobatan dan perawatan dirinya sehingga akan berdampak terhadap kualitas hidup ODHA (Stuart dan Laraia, 2001 dalam Agustianti, 2006).
d. Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sosial adalah kemampuan seseorang untuk membina hubungan interpersonal dengan orang lain, di mana hubungan yang terbina adalah hubungan yang mempunyai kerekatan dan keharmonisan (Agustianti, 2006). Masalah yang berkembang di masyarakat adalah individu yang mengidap HIV dan AIDS mendapatkan tekanan bukan saja akibat dari pengaruh intervensi HIV dalam tubuhnya tetapi, juga penderita dihadapkan pada masih tingginya stigma terhadap dirinya di masayrakat (Yana, 2007). Kondisi ini semakin membuat ODHA menutup dirinya dari kehidupan sosial yang dapat memperburuk kondisinya sehingga mempengaruhi kualitas hidupnya.
Daftar Pustaka
Agustianti, Dwi, 2007, HubunganDukunganSosialdenganKualitasHidup Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Bandar Lampung, http://www.hubungan+dukungansosial+kualitashidup+ODHA+bandarlampung.html. Diakses 3 Desember 2009.

Read More......