Kamis, 11 November 2010

Tingkat Pencegahan terhadap HIV & AIDS

Menurut Beaglehole (WHO), tingkat pencegahan terbagi atas:
1. Primordial Prevention
2. Primary Prevention
3. Secondary Prevention
4. Tertiarry Prevention
Sedangkan menurut Leavel dan Clark,tingkat pencegahan terdiri atas:
1. Health Promotion
2. Specifict Protection
3. Early Diagnosis
4. Disability Limitation
5. Rehabilition
Jika kedua pendapat tersebut digabungkan dalam pencegahan HIV dan AIDS,gambarannya dapat kita lihat sebagai berikut:
1. Premordial Prevention
Dalam premordial prevention ini, hal yang dapat kita lakukan dalam pencegahan terhadap HIV dan AIDS adalah dengan memantapkan status kesehatan, agar tidak terserang HIV. Hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam pemantapan kesehatan yakni, pemantapan pengetahuan mengenai HIV dan AIDS agar kita dapat menghindari hal-hal yang menjerumuskan kita ke dalam hal tersebut, menjaga imunitas, dan bergaul dengan orang-orang yang tepat, namun jangan sampai menutup diri terhadap ODHA (jauhi virusnya, bukan orangnya) karena mereka membutuhkan dukungan dari kita, dengan dukungan yang memberikan makna dan kepuasan bagi ODHA, hal tersebut akan berdampak positif terhadap kualitas hidupnya.
2. Primary Prevention
a. Health Promotion
Dalam health promotion ini, dilakukan penyuluhan mengenai HIV dan AIDS yang terkait dengan dampaknya, cara penularannya, pencegahan penularannya, dan lain sebagainya, dapat pula dilakukan pemberitahuan kepada masyarakat mengenai HIV dan AIDS melalui media massa maupun melalui kampanye-kampanye, namun yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah menjauhi virusnya, bukan orangnya.
b. Specifict Protection
World Health Organisation (WHO) merekomendasikan program ABCDE untuk upaya pencegahan HIV dan AIDS, yaitu:
1) Absetinensia, artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.
2) Be Faithful, artinya jika sudah menikah hanya melakukan seks dengan pasangan saja.
3) Condom, artinya jika memasang cara A dan B tidak bisa dipatuhi, maka harus digunakan alat pencegahan dengan menggunakan kondom.
4) Drugs, artinya tolak penggunaan Napza.
5) Equipment, artinya jangan memakai jarum suntik secara bersama-sama dan tidak steril.
3. Secondary Prevention
a. Early Diagnosis and Promp and Treatment
Dalam pencegahan tingkat ini, yang dilakukan adalah melakukan Voluntarily Conseling Test (VCT) untuk mengetahui status HIV, jika hasilnya testnya adalah positif, maka ikuti dan patuhilah Terapi Antiretroviral (Terapi ARV). Selanjutnya, periksakanlah jumlah CD4 secara berkala (sesuai dengan yang dianjurkan) guna mengevaluasi diri agar tetap mempertahankan CD4 melalui usaha-usaha tertentu.
b. Disability Limitation
Hal yang dilakukan dalam pencegahan ini adalah dengan:
1) Program Harm Reduction melalui terapi methadone bagi Injection Drug Users (IDU's)
2) Pengobatan terhadap infeksi oportunistik
3) Pemberian dukungan sosial yang sesuai, bermakna, dan memberikan kepuasan bagi ODHA agar berdampak positif bagi kualitas hidupnya.
4. Tertiarry Prevention
Pada tingkat pencegahan ini, hal yang dilakukan adala dengan Rehabilitation (rehabilitasi), rehabilitasi penderita HIV dan AIDS ini dapat dilakukan di rumah sakit atau di rumah (saat ini telah dikembangkan dan banyak dilaksanakan program home based care bagi penderita HIV dan AIDS).

Read More......

Selasa, 12 Oktober 2010

Kualitas Hidup

1. Pengertian Kualitas Hidup
Kualitas hidup merupakan suatu model konseptual, yang bermaksud untuk menggambarkan perspektif pasien dengan berbagai istilah, di mana pengertian kualitas hidup ini akan berbeda bagi orang sakit dan orang sehat (Farquahar dan Bowling, 1995 dalam Agustianti, 2006).
Menurut Cella, ada dua komponen dasar dari kualitas hidup yaitu subjektivitas dan multidimensi. Subjektivitas mengandung arti bahwa kualitas hidup hanya dapat ditentukan dari sudut pandangan pasien saja dan ini dapat diketahui dengan hanya bertanya langsung kepada pasien. Multidimensi mengandung arti bahwa kualitas hidup dipandang dari seluruh aspek kehidupan seseorang secara holistik meliputi aspek biologis, fisik, psikologis/emosi, sosiokultural, dan spiritual (Kinghorn dan Gamlin, 2001 dalam Agustianti, 2006).
Kualitas hidup mempunyai pengertian yang bersifat subjektif atau individual, Kualitas hidup terdiri dari berbagai aspek kehidupan serta dipengaruhhi oleh pengalaman hidup seseorang dan bagaimana cara pandangnya terhadap pengalaman hidup yang telah dilewatinya tersebut sehingga akan memberikan perasaan senang dan puas di masa yang akan datang (Agustianti, 2006).
2. Dimensi Kualitas Hidup
Menurut Cella, kualitas hidup seseorang dapat diukur melalui empat dimensi utama yaitu kesejahteraan fungsional, fisik, psikologis/emosional, dan sosial (Kinghorn dan Gamlin, 2001 dalam Agustianti, 2006).
a. Kesejahteraan Fungsional
Kesejahteraan fungsional yaitu kemampuan seseorang utnuk berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari meliputi bekerja, melakukan transaksi di bank, belanja, belajar, membersihkan rumah, merawat diri, berpakaian, menyiapkan makanan, dan toileting (Nies, 2001 dalam Agustianti, 2006). Akibat penyakit yang diderita ODHA sehingga memiliki kemampuan terbatas dalam melakukan kegiatan tersebut, sehingga memerlukan bantuan (dukungan sosial) dari berbagai pihak.
b. Kesejahteraan Fisik
Kesejahteraan fisik adalah kemampuan organ tubuh untuk berfungsi secara optimal sehingga dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Agustianti, 2006). Adanya infeksi HIV yang menyerang sistem imun seseorang sehingga berdampak pada kesehatan fisiknya.
c. Kesejahteraan Psikologis/Emosional
Kesejahteraan psikologis/emosional adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan perasaan senang danpuas terhadap suatu peristiwa atau kejadian yang dialami dalam kehidupan seseorang sehingga terhindar dari timbulnya masalah-masalah psikologis. Kondisi emosional ODHA yang tidak stabil karena adanya berbagai keterbatasan membuat ODHA merasa frustasi/kecewa dan akhirnya menimbulkan masalah depresi. Selain masalah depresi yang merupakan masalah psikologis terbesar pada ODHA adalah kecemasan, paranoid, mania, iritabel, psikosi, dan penggunaan obat-obatan. Berbagai masalah psikologis ini akan mempengaruhi kemampuan ODHA untuk berpartisipasi secara penuh dalam pengobatan dan perawatan dirinya sehingga akan berdampak terhadap kualitas hidup ODHA (Stuart dan Laraia, 2001 dalam Agustianti, 2006).
d. Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sosial adalah kemampuan seseorang untuk membina hubungan interpersonal dengan orang lain, di mana hubungan yang terbina adalah hubungan yang mempunyai kerekatan dan keharmonisan (Agustianti, 2006). Masalah yang berkembang di masyarakat adalah individu yang mengidap HIV dan AIDS mendapatkan tekanan bukan saja akibat dari pengaruh intervensi HIV dalam tubuhnya tetapi, juga penderita dihadapkan pada masih tingginya stigma terhadap dirinya di masayrakat (Yana, 2007). Kondisi ini semakin membuat ODHA menutup dirinya dari kehidupan sosial yang dapat memperburuk kondisinya sehingga mempengaruhi kualitas hidupnya.
Daftar Pustaka
Agustianti, Dwi, 2007, HubunganDukunganSosialdenganKualitasHidup Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Bandar Lampung, http://www.hubungan+dukungansosial+kualitashidup+ODHA+bandarlampung.html. Diakses 3 Desember 2009.

Read More......

Kamis, 07 Oktober 2010

Dukungan Sosial

1. Definisi Dukungan Sosial
Berikut ini adalah pendapat tentang dukungan sosial yang dikemukakan oleh para ahli :
a. Sheridan dan Radmacher menekankan pengertian dukungan sosial sebagai sumber daya yang disediakan lewat interaksi dengan orang lain.
b. Siegel menyatakan bahwa dukungan sosial adalah informasi dari orang lain bahwa ia dicintai dan diperhatikan, memiliki harga diri dan dihargai, serta merupakan bagian dari jaringan komunikasi dan kewajiban bersama (Referensi Kesehatan, 2008).
c. Saronson menerangkan bahwa dukungan sosial dapat dianggap sebagai sesuatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya.
d. Katc dan Kahn berpendapat, dukungan sosial adalah perasaan positif, menyukai, kepercayaan, dan perhatian dari orang lain yaitu orang yang berarti dalam kehidupan individu yang bersangkutan, pengakuan, kepercayaan seseorang dan bantuan langsung dalam bentuk tertentu.
e. Johnson and Johnson berpendapat bahwa dukungan sosial adalah pemberian bantuan seperti materi, emosi, dan informasi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia (Bow, 2009).
Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dukungan sosial adalah bentuk pertolongan berupa materi, informasi, emosi, pengakuan, rasa percaya, yang diberikan kepada seseorang yang membutuhkannya.
2. Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial
Sheridan dan Radmacher (1992), Sarafino (1998) serta Taylor (1999) membagi dukungan sosial kedalam lima bentuk. Yaitu :a. Dukungan Materi (tangible assisstance)
Bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat memberikan pertolongan langsung seperti pinjaman uang, pemberian barang, makanan serta pelayanan. Bentuk dukungan ini dapat mengurangi stress karena individu dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi. Dukungan instumental sangat diperlukan terutama dalam mengatasi masalah dengan lebih mudah.
b. Dukungan Pemberian Informasi dan Arahan
Bentuk dukungan ini melibatkan pemberian informasi, saran atau umpan balik tentang situasi dan kondisi individu, Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih mudah. Bentuk dukungan ini dapat berupa pemberian nasehat, arahan, saran, feed back tentang apa yang sedang dan telah dilakukan seseorang, misalnya pemberian informasi tentang penyakit oleh dokter kepada pasien yang membutuhkannya (Sarafino, 1994 dalam Agustianti, 2006).
c. Dukungan Emosional
Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diperdulikan dan dicintai oleh sumber dukungan sosial sehingga individu dapat menghadapi masalah dengan lebih baik. Dukungan ini sangat penting dalam menghadapi keadaan yang dianggap tidak dapat dikontrol.
d. Dukungan Pada Harga Diri
Bentuk dukungan ini berupa penghargaan positif pada individu, pemberian semangat, persetujuan pada pendapat induividu, perbandingan yang positif dengan individu lain. Bentuk dukungan ini membantu individu dalam membangun harga diri dan kompetensi.
e. Dukungan Dari Kelompok Sosial
Bentuk dukungan ini akan membuat individu merasa anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktifitas sosial dengannya. Dengan begitu individu akan merasa memiliki teman senasib (Referensi Kesehatan, 2008).
3. Sumber Dukungan Sosial
Hause dan Kahn mengemukakan bahwa dukungan sosial dapat dipenuhi dari teman atau persahabatan, keluarga, dokter, psikolog, psikiater. Sedangkan Nicholson dan Antil mengatakan bahwa dukungan sosial adalah dukungan yang berasal dari keluarga dan teman dekat atau sahabat. (Suhita, 2005 dalam Bow, 2009).
Hal senada juga diungkapkan oleh Thorst bahwa dukungan sosial bersumber dari orang-orang yang memiliki hubungan berarti bagi individu seperti keluarga, teman dekat, pasangan hidup, rekan kerja, tetangga, dan saudara (Sofia, 2003 dalam Bow, 2009).
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dukungan Sosial
Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan sosial menurut Reis ada tiga faktor yang mempengaruhi penerimaan dukungan sosial pada individu yaitu:
a. Keintiman
Dukungan sosial lebih banyak diperoleh dari keintiman daripada aspek-aspek lain dalam interaksi sosial, semakin intim seseorang maka dukungan yang diperoleh akan semakin besar.
b. Harga Diri
Individu dengan harga diri memandang bantuan dari orang lain merupakan suatu bentuk penurunan harga diri karena dengan menerima bantuan orang lain diartikan bahwa individu yang bersangkutan tidak mampu lagi dalam berusaha.
c. Keterampilan Sosial
Individu dengan pergaulan yang luas akan memiliki keterampilan sosial yang tinggi, sehingga akan memiliki jaringan sosial yang luas pula. Sedangkan, individu yang memiliki jaringan individu yang kurang luas memiliki ketrampilan sosial rendah (Suhita, 2005 dalam Bow, 2009).
Selain pendapat Reis tersebut, faktor yang berhubungan dengan dukungan sosial juga dikemukakan berdasarkan hasil sebuah penelitian sebagai berikut:
a. Ketersediaan Dukungan
Ketersediaan dukungan sosial ini diukur berdasarkan ketersediaan jaringan sosial. Ketersediaan jaringan sosial ini dinilai berdasarkan jumlah anggota keluarga dan jumlah teman yang dimiliki.
b. Pengungkapan Status
Pengungkapan status ini diukur berdasarkan persentase dari jumlah teman maupun anggota keluarga, di mana ODHA mengungkapkan statusnya kepada orang tersebut.
c. Kepuasan Terhadap Hubungan
Kepuasan terhadap hubungan ini diukur berdasarkan persepsi responden terhadap hubungannya dengan keluarga maupun teman. Pengukuran persepsi ini menggunakan “Skala Likert”, yaitu dengan cara memberikan skor mulai dari Sangat Tidak Memuaskan=1 sampai dengan Sangat Memuaskan=5.
Pada penelitian ini diperoleh informasi bahwa ketersediaan dukungan dan pengungkapan status kepada teman memiliki pengaruh yang signifikan terhadap dukungan sosial yang dirasakan oleh responden, sedangkan kepuasan terhadap hubungan memiliki pengaruh, namun tidak signifikan. Dukungan sosial dari teman yang dirasakan oleh responden hanya berpengaruh secara signifikan pada tingkat depresi responden saja,sedangkan untuk jumlah t-cell dan gejala-gejala fisik yang diderita tidak ada pengaruh yang signifikan. Berbeda halnya dengan ketersediaan dukungan dan pengungkapan status kepada keluarga, ketiga hal tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap dukungan sosial yang dirasakan. Dukungan sosial dari keluarga yang dirasakan tersebut berpangaruh secara signifikan pada tingkat depresi dan jumlah t-cell responden, sedangkan untuk gejala-gejala fisik yang diderita tidak ada pengaruhyang signifikan (Brucker P.S., Kimberly J.A., Serovich J.M., 2000.Daftar Pustaka
Agustianti, Dwi, 2007, HubunganDukunganSosialdenganKualitasHidup Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Bandar Lampung, http://www.hubungan+dukungansosial+kualitashidup+ODHA+bandarlampung.html. Diakses 3 Desember 2009.

Bow, Mas. 2009. Apa itu Dukungan Sosial?, http://www.masbow.com/2009/08/apa-itu-dukungan-sosial.html. Diakses 24 Maret 2010.

Brucker P.S., Kimberly J.A., Serovich J.M.. Barriers To Social Support For Persons Living With HIV/AIDS AIDS Care Journals. 2000 : Vol12, No. 5, pp. 651-662. Available at : http://ehe.osu.edu/hdfs/projectoffice/publications/downloads/barriers-to-social-support-for-persons-living-hiv-aids.pdf. Diakses 13 Mei 2010.

ReferensiKesehatan. 2008. Dukungan Sosial. http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/dukungan-sosial/, diakses 24 Maret 2010.

Read More......

Minggu, 03 Oktober 2010

My Days in Ramadhan

Tok...tok...tok" terdengar suara ketukan dari pintu kamarku. "Sahur...sahurr...sahurrrrrrrrrr" teriak orang yang mengetuk pintu tersebut. Setelah kuutuhkan kembali tenagaku yang sempat hilang saat tidur kubangkit dari tempat tidur dan menujun WC untuk cuci muka tentunya.
"Alhamdulillah... syukron ya Rab... engkau masih memberiku kesempatan merasakan indahnya bulan yang penuh berkah ini" Gumamku dalam hati. Hari ini adalah sahur kelima sejak memasuki bulan ramadhan, masih seperti empat hari kemarin, tidak ada yang istimewa.Usai sahur kusetel radio dan saluran yang kupilih adalah "Prambors" yang sedang menyiarkan acara re run Kompilasi Kisah Kamu (KKK). Banyak hal yang aku peroleh dari acara ini, "We come to love not finding perfect person, but learning to see imperfect perfectly" adalah salah satu kalimat yang dapat aku kutip dari acara ini. Adzan subuh dikumandangkan dari mesjid dekat rumah yang menandakan aku harus meninggalkan saluran tersebut yang memang telah selesai menyiarkan acara tersebut. Selepas shalat subuh, aku mengambil Al Qur'an dan kemudian melantunkan ayat-ayatNya.
Merasa bosan karena tak ada lagi yang bisa kulakukan, jadi aku ke warnet untuk menghilangkan kebosananku dengan menulis.

Read More......

Demam Social Networking

Berawal dari Orientasi Pengenalan Kampus (bc:OSPEK) yang mengharuskan MABAx membuat alamat e-mail, dar situlah awal mula aku mengenal "Jejaring Sosial". Diteriknya Siang pada hari Minggu di Bulan November 2006 tidak menyurutkan langkahQ menuju Warnet untuk membuat e-mail sesuai dg perintah senior (yg saat itu perintah yg hanya satu tingkat di bawah perintah Tuhan).
Kumemilih tempat yg paling ujung karena hanya tempat itulah yang tidak terpakai, di sela langkahQ menuju tempat itu, mataku melirik kiri-kanan, melihat situs yang ramai dibuka orang di Warnet tersebut. Itulahyang disebut Friendster yang merupakan Jejaring Sosial Pertama yang saya kenal,Kubuka akun Friendster dengan nama "Inet" (bc:sapaan teman2 kampus). Beberapa bulan berikutnyaaku membuka blog (bc: Blogspot)berdasarkan saran dari teman dan kemudian belajar mengelola (masih amatiran sih...)blog dari teman yang menyarankan tersebut. 1 Tahun Berikutx ku kenal pula Jejaring Sosial yang bernama Facebook yang aku ketahui dari teman2 kuliahQ, Riani adalah Nama Akun di FacebookQ yang kemudian berganti menjadi Sak Riani, berkat facebook inilah aku banyak berinteraksi lagi dengan teman2 yang sdh gak ketemu karena terpisah oleh jarak.Twitter adalah Jejaring sosial berikutx yang aku punya, aku mengetahui keberadaan twitter ini berkat Infotainment yang memberitakan seorang artis berinisial "M" yang membuat heboh dunia hiburan melalui video yang di uploadx di situs jejaringx tersebut. Hingga 03 Oktober 2010 aku diperkenalkan situs jejaring sosial yang bernama Plurk oleh teman kost dan kemudian membuat akun dengan nama pengguna "Sak87".

Read More......

Sabtu, 14 Agustus 2010

My Days in Ramadhan...

"Tok...tok...tok" terdengar suara ketukan dari pintu kamarku. "Sahur...sahurr...sahurrrrrrrrrr" teriak orang yang mengetuk pintu tersebut. Setelah kuutuhkan kembali tenagaku yang sempat hilang saat tidur kubangkit dari tempat tidur dan menujun WC untuk cuci muka tentunya.
"Alhamdulillah... syukron ya Rab... engkau masih memberiku kesempata merasakan indahnya bulan yang penuh berkah ini" Gumamku dalam hati.
Hari ini adalah sahur kelima sejak memasuki bulan ramadhan, masih seperti empat hari kemarin, tidak ada yang istimewa.Usai sahur kusetel radio dan saluran yang kupilih adalah "Prambors" yang sedang menyiarkan acara re run Kompilasi Kisah Kamu (KKK). Banyak hal yang aku peroleh dari acara ini, "We come to love not finding perfect person, but learning to see imperfect perfectly" adalah salah satu kalimat yang dapat aku kutip dari acara ini.
Adzan subuh dikumandangkan dari mesjid dekat rumah yang menandakan aku harus meninggalkan saluran tersebut yang memang telah selesai menyiarkan acara tersebut. Selepas shalat subuh, aku mengambil Al Qur'an dan kemudian melantunkan ayat-ayatNya.
Merasa bosan karena tak ada lagi yang bisa kulakukan, jadi aku ke warnet untuk menghilangkan kebosananku dengan menulis

Read More......

Relation of Knowledge and Attitude to Access Porn Sites Among Adolescences who Visited “Internet Shops” (Warnet-Warnet) in Makasssar

Abstract


Introduction, Some of researchers explained that, by increasing the interest of adolescences about sexs, urging them to look for informations. That informations can be found freely from peer group, books, movies, videos, and opening internet sites. The negative effect of media, especially for pornography was the serious problem must be solved because indirectly it can influence the adolescences’s health reproduction. Generally, they exposured pornography from internet by visiting internet shop (Warnet).
Purpose, To determine the relation of knowledge and attitude of using internet to access porn sites among adolescences who visited internet shop in Makassar by using cross sectional study. Adolescences who visited internet shop in Makassar were population of this study, 413 of them recruited as sample by using accidental sampling method. This study used 14 days to finish.
Result, there is no relation of knowledge to attitude of using internet (p=0,081), there is relation of knowledge of using internet to access porn sites (p=0,000) and attitude of using internet to access porn sites among adolescences who visited internet shop.
Propose, Sex education should be giving to adolescences, parents should create communication to their child, the government should make the rules about blockade porn sites accessed by adolescences to the internet shop own.


Key world : knowledge. attitude, access porn sites, adolescence

Read More......

Sabtu, 07 Agustus 2010

Ce_eL_Be_Ka

Namaku adalah Jae alias Jaeliah Salsabilah, mahasiswi semester lima Jurusan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Fifi, mahasiswi Jurusan Keperwatan Universitas Hasanuddin merangkap sebagai teman kost-ku, adalah orang yang aku berikan kepercayaan untuk mengetahui semua kisahku, termasuk kisahku dengan Ezy yang masih sangat sulit kulupakan meskipun sudah dua tahun berlalu.
Abdi adalah
orang yang baru aku kenal melalui sms-an, meskipun hanya melalui sms aku merasa sangat dekat dengan Abdi. Entah perasaan dekat itu muncul sejak kapan dan darimana…
Akhirnya aku dan Abdi memutuskan untuk bertemu, di tempat pertemuan antara aku dan Abdi, aku melihat seseorang yang masih aku rindukan slama ini, orang yang begitu sulit untuk kulupakan. Orang yang dua tahun lalu aku harus putuskan karena tidak ada restu dari orang tua kami dan orang itu tidak lain adalah “Ezy”.
Siapakah Abdi sebenarnya? Kenapa orang Ezy juga ada di situ?? Di manakah orang yang bernama Abdi itu??? Begitu banyak pertanyaan yang muncul dibenakku setelah tiba di tempat aku danAbdi janjian.

Read More......