Selasa, 25 November 2008

Epidemiologi leptospirosis

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia dan dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Tetapi dalam air laut, selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati.

Angka kematian akibat penyakit yang disebabkan bakteri lepstopira tergolong cukup tinggi bahkan untuk penderita yang berusia lebih dari 50 tahun malah kematiannya bisa mencapai 56% (Masniari poengan, peneliti dari Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor 2007)

Di Amerika Serikat tercatat sebanyak 50-150 kasus leptospirosis setiap tahun sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai

Guilan Provinsi di utara di Iran, merupakan daerah endemik Leptospirosis. Karena diagnosa Leptospirosis berdasarkan gejala klinis sangat sulit karena kurangnya karakteristik pathogonomic, dukungan laboratoriumdiperlukan. Angka kejadian penyakit leptospirosis di Provinsi Guilan Iran Utara cukup tinggi terutama pada daerah Rasht. Pada daerah tersebut terdapat 233 kasus Leptospirosis dari keseluruhan kasus yang berjumlah 769 sedangkan di daerah lainnya seperti Somesarah, Lahijan, Masal, Anzali, Shaft, Astaneh, Foman, Langarud, Rudsar, Rezvanshahr, Talesh, Siahkal, Rudbar, Amlash, Rostamabad, masing-masing 218, 57, 20, 19, 19, 18, 12, 10, 10, 9.0, 8.0, 7.0, 2.0, 1.0, dan 1.0.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana gambaran epidemiologi penyakit leptospirosis di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara.

C. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Umum

Untuk melihat distribusi penyakit leptospirosis berdasarkan orang (umur dan jenis kelamin), waktu, dan tempat di wilayah Provinsi Guilan Iran Utara tahun 2006.

2. Tujuan Khusus

· Untuk melihat distribusi penyakit leptospirosis berdasarkan umur di wilayah Provinsi Guilan Iran Utara tahun 2006

· Untuk melihat distribusi penyakit leptospirosis berdasarkan jenis kelamin di wilayah Provinsi Guilan Iran Utara tahun 2006

· Untuk melihat distribusi penyakit leptospirosis berdasarkan jenis pekerjaan di wilayah Provinsi Guilan Iran Utara tahun 2006

· Untuk melihat distribusi penyakit leptospirosis berdasarkan waktu di wilayah Provinsi Guilan iran Utara tahun 2006

· Untuk melihat distribusi penyakit leptospirosis berdasarkan di wilayah Provinsi Guilan Iran Utara tahun 2006

D. MANFAAT PENULISAN

1. Manfaat ilmiah

Makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada penyakit menular di Indonesia.

2. Manfaat bagi instansi terkait

Tulisan ini dapat memberikan masukan dan sumber informasi bagi instansi terkait seperti dinas kesehatan, sehubungan dalam usaha pelaksanaan pencegahan penyakit menular di Indonesia terutama leptospirosis.

3. Manfaat bagi penulis

Dapat memberi tambahan ilmu pengetahuan serta pengalaman bagi penulis dan juga sebagai referensi dalam penulisan makalah selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

  1. TINJAUAN UMUM TENTANG LEPTOSPIROSIS

1. Sejarah Leptospirosis

Dikenal pertama kali sebagai penyakit occupational (penyakit yang diperoleh akibat pekerjaan) pada beberapa pekerja pada tahun 1883. Pada tahun 1886 Weil mengungkapkan manifestasi klinis yang terjadi pada 4 penderita yang mengalami penyakit kuning yang berat, disertai demam, perdarahan dan gangguan ginjal. Sedangkan Inada mengidentifikasikan penyakit ini di jepang pada tahun 1916. (Inada R, Ido Y, et al: Etiology, mode of infection and specific therapy of Weil's disease. J Exp Med 1916; 23: 377-402.)

Penyakit ini dapat menyerang semua usia, tetapi sebagian besar berusia antara 10-39 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki usia pertengahan, mungkin usia ini adalah faktor resiko tinggi tertular penyakit occupational ini.

Angka kejadian penyakit tergantung musim. Di negara tropis sebagian besar kasus terjadi saat musim hujan, di negara barat terjadi saat akhir musim panas atau awal gugur karena tanah lembab dan bersifat alkalis.

Angka kejadian penyakit Leptospira sebenarnya sulit diketahui. Penemuan kasus leptospirosis pada umumnya adalah underdiagnosed, unrreported dan underreported sejak beberapa laporan menunjukkan gejala asimtomatis dan gejala ringan, self limited, salah diagnosis dan nonfatal.

Di Amerika Serikat (AS) sendiri tercatat sebanyak 50 sampai 150 kasus leptospirosis setiap tahun. Sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai. Di Indonesia penyakit demam banjir sudah sering dilaporkan di daerah Jawa Tengah seperti Klaten, Demak atau Boyolali.

Beberapa tahun terakhir di derah banjir seperti Jakarta dan Tangerang juga dilaporkan terjadinya penyakit ini. Bakteri leptospira juga banyak berkembang biak di daerah pesisir pasang surut seperti Riau, Jambi dan Kalimantan.

Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40%. Infeksi ringan jarang terjadi fatal dan diperkirakan 90% termasuk dalam kategori ini. Anak balita, orang lanjut usia dan penderita “immunocompromised” mempunyai resiko tinggi terjadinya kematian.

Penderita berusia di atas 50 tahun, risiko kematian lebih besar, bisa mencapai 56 persen. Pada penderita yang sudah mengalami kerusakan hati yang ditandai selaput mata berwarna kuning, risiko kematiannya lebih tinggi lagi

Paparan terhadap pekerja diperkirakan terjadi pada 30-50% kasus. Kelompok yang berisiko utama adalah para pekerja pertanian, peternakan, penjual hewan, bidang agrikultur, rumah jagal, tukang ledeng, buruh tambang batubara, militer, tukang susu, dan tukang jahit. Risiko ini berlaku juga bagi yang mempunyai hobi melakukan aktivitas di danau atau sungai, seperti berenang atau rafting.

Penelitian menunjukkan pada penjahit prevalensi antibodi leptospira lebih tinggi dibandingkan kontrol. Diduga kelompok ini terkontaminasi terhadap hewan tikus. Tukang susu dapat terkena karena terkena pada wajah saat memerah susu. Penelitian seroprevalensi pada pekerja menunjukan antibodi positif pada rentang 8-29%.

2. Definisi

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia dan dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Sistem klasifikasi tradisional didasarkan atas patogenitas yang membedakan antara spesies patogen yaitu Leptospira interrogans dan spesies nonpatogen yang hidup bebas, yaitu Leptospira biflexa. Leptospira berbentuk ulir yang rapat, tipis dengan panjang 5-15 mm. Leptospira dapat hidup berminggu-minggu di dalam air, khususnya pada pH basa. (Brooks, 2005)

  1. TINJAUAN TENTANG AGEN PENYEBAB

1. Etiologi

Leptospirosis disebabkan bakteri pathogen (dapat menyebabkan penyakit) berbentuk spiral termasuk genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil, obligat, dan berkembang pelan secara anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2 spesies yaitu L interrogans yang merupakan bakteri patogen dan L biflexa adalah saprofitik.

Berdasarkan temuan DNA pada beberapa penelitian terakhir, 7 spesies patogen yang tampak pada lebih 250 varian serologi (serovars) telah berhasil diidentifikasi. Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia lainnya. Hewan peliharaan yang paling berisiko mengidap bakteri ini adalah kambing dan sapi.

Setiap hewan berisiko terjangkit bakteri leptospira yang berbeda-beda. Hewan yang paling banyak mengandung bakteri ini (resevoir) adalah hewan pengerat dan tikus. Hewan tersebut paling sering ditemukan di seluruh belahan dunia.

Di Amerika yang paling utama adalah anjing, ternak, tikus, hewan buas dan kucing. Beberapa serovar dikaitkan dengan beberapa hewan, misalnya L pomona dan L interrogans terdapat pada lembu dan babi, L grippotyphosa pada lembu, domba, kambing, dan tikus, L ballum dan L icterohaemorrhagiae sering dikaitkan dengan tikus dan L canicola dikaitkan dengan anjing. Beberapa serotipe yang penting lainnya adalah autumnalis, hebdomidis, dan australis.

2. Mekanisme penularan

a. Sumber Penularan

Hewan yang menjadi sumber penularan adalah tikus (rodent), babi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, serangga, burung, kelelawar, tupai dan landak. Sedangkan penularan langsung dari manusia ke manusia jarang terjadi.

b. Cara Penularan

Manusia terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori oleh air seni hewan yang menderita leptospirosis. Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau atau makanan yang terkontaminasi oleh urine hewan terinfeksi leptospira. Masa inkubasi selama 4 - 19 hari.

3. Manifestasi Klinik

Infeksi leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang asimtomatis (tanpa gejala), sehingga sering terjadi misdiagnosis. Hampir 15-40% penderita yang terpapar infeksi tidak mengalami gejala tetapi menunjukkan serologi positif.

Masa inkubasi biasanya terjadi sekitar 7-12 hari dengan rentang 2-20 hari. Sekitar 90% penderita dengan manifestasi ikterus (penyakit kuning) ringan sekitar 5-10% dengan ikterus berat yang sering dikenal dengan penyakit Weil.

Perjalanan penyakit leptospira terdiri dari 2 fase yang berbeda, yaitu fase septisemia dan fase imun. Dalam periode peralihan dari 2 fase tersebut selama 1-3 hari kondisi penderita menunjukkan beberapa perbaikkan.

Manifestasi klinis terdiri dari 2 fase yaitu fase awal dan fase ke-2. Fase awal tahap ini dikenal sebagai fase septicemic atau fase leptospiremic karena organisme bakteri dapat diisolasi dari kultur darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Selama fase awal yang terjadi sekitar 4-7 hari, penderita mengalami gejala nonspesifik seperti flu dengan beberapa variasinya.

Karakteristik manifestasi klinis yang terjadi adalah demam, menggigil kedinginan, lemah dan nyeri terutama tulang rusuk, punggung dan perut. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, ruam, sakit kepala regio frontal, fotofobia, gangguan mental, dan gejala lain dari meningitis.

Fase ke-2 sering disebut fase imun atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat di deteksi dengan isolasi kuman dari urin dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi pada darah atau cairan serebrospinalis.

Fase ini terjadi karena akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi dan terjadi pada 0-30 hari atau lebih. Gangguan dapat timbul tergantung manifestasi pada organ tubuh yang timbul seperti gangguan pada selaput otak, hati, mata atau ginjal.

Gejala non spesifik seperti demam dan nyeri otot mungkin sedikit lebih ringan dibandingkan fase awal dan 3 hari sampai beberapa minggu terakhir. Beberapa penderita sekitar 77% mengalami nyeri kepala terus menerus yang tidak respon dengan pemberian analgesik.

Gejala ini sering dikaitkan dengan gejala awal meningitis. Delirium (tidak waras, kegilaan) juga didapatkan pada tanda awal meningitis, Pada fase yang lebih berat didapatkan gangguan mental berkepanjangan termasuk depresi, kecemasan, psikosis dan dementia.

Gangguan anikterik dapat dijumpai meningitis aseptik adalah sindrom manifestasi klinis yang paling penting didapatkan pada fase anikterik imun. Gejala meningeal terjadi pada 50% penderita. Palsi saraf kranial, ensefalitis, dan perubahan kesadaran jarang didapatkan.

Meningitis bisa terjadi apada beberapa hari awal, tapi biasanya terjadi pada minggu pertama dan kedua. Kematian jarang terjadi pada kasus anikterik. Gangguan ikterik : leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul ikterik. Nyeri perut dengan diare dan konstipasi terjadi sekitar 30%, hepatosplenomegali, mual, muntah dan anoreksia.

Uveitis terjadi pada 2-10% kasus dapat terjadi pada awal atau akhir penyakit, bahkan dilaporkan dapat terjadi sangat lambat sekitar 1 tahun setelah gejala awal penyakit timbul. Iridosiklitis and korioretinitis adalah komplikasi lambat yang akanan menetap selama setahun. Gejala pertama akan timbul saat 3 minggu hingga 1 bulan setelah paparan.

Perdarahan subkonjuntiva adalah komplikasi pada mata yang sering terjadi pada 92% penderita leptospirosis. Gejala renal seperti azotemia, pyuria, hematuria, proteinuria dan oliguria sering tampak pada 50% penderita. Kuman leptospira juga dapat timbul di ginjal. Manifestasi paru terjadi pada 20-70% penderita. Adenopati, rash, and nyeri otot juga dapat timbul.

Sindroma klinis tidak khas pada berbagai serotipe, tetapi beberapa manifestasi sering tampak pada serotipe tertentu. Misalnya ikterus didapatkan pada 83% penderita dengan infeksi L icterohaemorrhagiae and 30% pada L pomona. Rash eritematous pretibial sering didaptkan pada infeksi L autumnalis. Gangguan gastrointestinal pada infeksi dengan L grippotyphosa. Aseptic meningitis seringkali terjadi pada infeksi L pomona atau L canicola.

Sindrom Weil adalah bentuk leptospirosis berat dengan ditandai ikterus, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru, dan diatesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase ke dua, tetapi keadaan bisa memburuk setiap waktu. Kriteria keadaan masuk dalam penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik.

Manifestasi paru meliputi batuk, dispnu, nyeri dada, sputum darah, batuk darah, dan gagal napas. Vaskular dan disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya ikterus setelah 4-9 hari setelah gejala awal penyakit. Penderita dengan ikterus berat lebih mudah terjadi gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular.

Hepatomegali didapatkan pada kuadran kanan atas. Oliguri atau anuri pada nekrosis tubular akut sering terjadi pada minggu ke dua sehingga terjadi hipovolemi dan menurunya perfusi ginjal.

Sering juga didapatkan gagal multi-organ, rhabdomyolysis, sindrom gagal napas, hemolisis, splenomegali, gagal jantung kongestif, miocarditis, dan pericarditis. Sindrom Weil mengakibatkan 5-10%. Sebagian besar kasus berat sindrom dengan gangguan hepatorenal dan ikterus mengakibatkan mortalitas 20-40%. Angka mortalitas juga akan meningkat pada usia lanjut usia.

Leptospirosis dapat terjadi makular atau rash makulopapular, nyeri perut mirip apendisitis akut, pembesaran kelenjar limfoid mirip infeksi mononucleosis. Juga dapat menimbulkan manifestasi aseptic meningitis, encephalitis, atau “fever of unknown origin”. Leptospirosis dapat dicurigai bila didapatkan penderita dengan flulike disease dengan aseptic meningitis atau disproporsi mialgia berat.

Pemeriksaan fisik yang didapatkan pada penderita berbeda tergantung berat ringannya penyakit dan waktu dari onset timbulnya gejala. Tampilan klinis secara umum dengan gejala pada beberapa spektrum mulai dari yang ringan hingga pada keadaan toksis.

Pada fase awal pemeriksaan fisik yang sering didapatkan adalah demam seringkali tinggi sekitar 40o C disertai takikardi. Subkonjuntival suffusion, injeksi faring, splenomegali, hepatomegali, ikterus ringan, mild jaundice, kelemahan otot, limfadenopati dan manifestasi kulit berbentuk makular, makulopapular, eritematus, urticari, atau “rash” perdarahan juga didapatkan pada fase awal penyakit.

Pada fase kedua manifestasi klinis yang ditemukan sesuai organ yang terganggu. Gejala umum yang didaptkan adalah adenopathy, rash, demam, perdarahan, tanda hipovolemia atau syok kardiogenik. Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan ikterus, hepatomegali, tanda koagulopati. Gangguan paru didapatkan batuk, batuk darah, dispneu, dan distres pernapasan.

Manifestasi neurologi didapatkan palsi saraf kranial, penurunan kesadaran, delirium atau gangguan mental berkepanjangan seperti depresi, kecemasan, iritabel, psikosis, dan demensia.

Pemeriksaan mata terdapat perdarahan subconjuntiva, uveitis, tanda iridosiklitis atau korioretinitis. Gangguan hematologi yang ditemukan adalah perdarahan, petekie, purpura, ekimosis dan splenomegali. Kelainan jantung dijumpai tanda dari kongestif gagal jantung atau perikarditis.

4. Masa Inkubasi

Masa inkubasi (dari terinfeksi sampai munculnya penyakit) leptospirosis biasanya berlangsung antara 2 hari sampai sekitar 4 minggu. Namun, rata-rata masa inkubasi adalah 10 hari setelah terinfeksi. Penyakit ini bisa berlangsung selama 3 hari sampai 3 minggu, atau bahkan lebih lama lagi. Jika tidak diobati, maka penyembuhan penyakit ini akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa saja berakibat fatal (kematian pada yang mengalami kerusakan ginjal).

5. Pencegahan

· Membiasakan diri dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

· Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus.

· Mencucui tangan dengan sabun sebelum makan.

· Mencucui tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/sampah/tanah/selokan dan tempat-tempat yang tercemar lainnya.

· Melindungi pekerja yang berisiko tinggi terhadap leptospirosis (petugas kebersihan, petani, petugas pemotong hewan, dan lain-lain) dengan menggunakan sepatu bot dan sarung tangan.

· Menjaga kebersihan lingkungan

· Membersihkan tempat-tempat air dan kolam renang.

· Menghindari adanya tikus di dalam rumah/gedung.

· Menghindari pencemaran oleh tikus.

· Melakukan desinfeksi terhadap tempat-tempat tertentu yang tercemar oleh tikus

· Meningkatkan penangkapan tikus.

6. Pengobatan

Pengobatan dini sangat menolong karena bakteri Leptospira mudah mati dengan antibiotik yang banyak di jumpai di pasar seperti Penicillin dan turunannya (Amoxylline) Streptomycine, Tetracycline, Erithtromycine. Bila terjadi komplikasi angka lematian dapat mencapai 20%. Segera berobat ke dokter terdekat.

BAB III
TINJAUAN EPIDEMIOLOGI

A. DISTRIBUSI MENURUT ORANG

Untuk kategori orang, mereka yang beresiko terpapar bakteri leptospira adalah mereka yang bekerja di sektor petani, peternak, pekerja tebu, dokter hewan, penjual susu, Mereka-mereka itu jika di lihat dari segi profesinya. Jika berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mempunyai resiko yang tinggi terpapar bakteri leptospira ini. Selain itu, penyakit ini dapat terjadi pada orang-orang yang terpajan dengan sungai, atau danau yang airnya tercemar denga urine binatang terinfeksi bakteri leptospira.

B. DISTRIBUSI MENURUT TEMPAT

Tempat-tempat yang beresiko terpapar bakteri leptospira adalah daerah persawahan, daerah rawa, lahan gambut, dan daerah kumuh..

C. DISTRIBUSI MENURUT WAKTU

Waktu penyebaran penyakit Leptospirosis secara umum pada musim hujan, tapi tidak selamanya pada musim hujan mempunyai insidensi tinggi untuk penyakit Leptospirosis, tergantung pada genangan air yang akan terbentuk jika terjadi hujan. Itupun juga kalau terjadi banjir dengan hasil banjir yang memukau. Meskipun bukan musim hujan , kalau tetap masih ada juga genangan air yang tercemar bakteri leptospira yang berasal dari urin tikus akan terinfeksi penyakit Leptospirosis.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan H Honarmand, S Eshraghi, MR Khorramizadeh, RA Hartskeerl, FM Ghanaei, GR Abdolahpour, MR Eshraghiandapat diketahui bahwa dari 995 sampel diperoleh 769 kasus positif menderita leptospirosis. Dari kasus 63,7% adalah laki-laki dan sekitar 86% dari mereka adalah petani. Tinggi tingkat distribusi Leptospirosis yang dianggap di tengah-berusia orang (65% di tahun 20-50). Angka kejadian leptospirosis tinggi pada bulan September yaitu 40,9%, dan terbanyak ditemukan pada wilayah Rasht.

1. Distribusi Penyakit Leptospirosis Menurut Orang Di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara

a. Menurut Kelompok Umur

Grafik 1

Distribusi Penyakit Leptospirosis Menurut Umur di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara Tahun 2006

Dari grafik tersebut dapat dikatehui bahwa penyakit leptospirosis cenderung lebih banyak diderita oleh kelompok umur 20 - 50 tahun. Dari seluruh kasus positif penderita leptospirosis 65,2% yang berada pada rentan usia 20 - 50 tahun.

b. Menurut Jenis Kelamin

Tabel 1

Distribusi Penyakit Leptospirosis Menurut Jenis Kelamin di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara Tahun 2006

Jenis Kelamin

N

%

Men

Woman

490

279

63,7

36,3

Total

769

100

Dari tabel teresbut di atas, dapat diketahui bahwa penyakit leptospirosis lebih banyak diderita oleh laki-laki, 63,7% dari 769 kasus positif leptospirosis adalah laki-laki.

c. Menurut Jenis Pekerjaan

Tabel 2

Distribusi Penyakit Leptospirosis Menurut Jenis Pekerjaan di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara Tahun 2006

Jobs

Farmer

Worker

Employee

Student

Driver

Cooker

Fisherman

Unemployed

Distribution Rate (%)

86.4

5.3

3.8

2.4

1.0

0.5

1.0

2.4

Dari tabel teresbut di atas, dapat diketahui bahwa penyakit leptospirosis lebih banyak diderita oleh para petani, 86,4% dari 769 kasus positif leptospirosis adalah para petani.

2. Distribusi Frekuensi Penyakit Leptospirosis Menurut Waktu Di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara

Grafik 2

Distribusi Penyakit Leptospirosis Menurut Waktu di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara Tahun 2006

Dari grafik teresbut di atas, dapat diketahui bahwa penyakit leptospirosis cenderung tinggi pada bulan september, 40,9% dari 769 kasus positif leptospirosis berada pada bulan september.


2. Distribusi Frekuensi Penyakit Leptospirosis Menurut Tempat Di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara

Tabel 3

Distribusi Penyakit Leptospirosis Menurut Tempat di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara Tahun 2006

Kota

n

%

Rasht

Somesarah

Lahijan

Masal

Anzali

Shaft

Astaneh

Foman

Langarud

Rudsar

Rezvanshahr

Talesh

Siahkal

Rudbar

Amlash

Rostamabad

233

218

57

20

19

19

18

12

10

10

9.0

8.0

7.0

2.0

1.0

1.0

36.0

34.7

9.1

3.1

2.9

2.9

2.8

1.8

1.5

1.5

1.4

1.2

1.0

0.3

0.1

0.1

Dari tabel teresbut di atas, dapat diketahui bahwa penyakit leptospirosis cenderung tinggi pada wilayah Rasht , 36,0% dari 769 kasus positif leptospirosis berada pada wilayah Rasht.

B. PEMBAHASAN

1. Distribusi Penyakit Leptospirosis Menurut Orang Di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara

a. Menurut Kelompok Umur

Tinggi tingkat distribusi Leptospirosis yang dianggap di tengah-berusia orang (65% di tahun 20-50). Karena pada usia tersebut adalah usia yang produktif sehingga orang-orang yang berada pada kelompok usia tersebut lebih sering terpapar, tetrutama yang bekerja dalam pertanian.

b. Menurut Jenis Kelamin

Penyakit leptospirosis cenderung lebih tinggi pada Laki-laki dibandingkan dengan perempuan, ini disebabkan karena perbedaan dalam bidang pekerjaan. perempuan bekerja di ladang-ladang beras dalam gaya yang berbeda. Misalnya pada bidang pertanian pekrjaan laki-laki lebih berat dari perempuan. Pekerjaan laki-laki dalam pertanian lebih kepada pengarapan sawah sedangkan perempuan aktif dalam menjaga padi dari binatang (mereka bekerja lebih terlindungi) tradisional, sehingga mereka berada dalam resiko rendah.

c. Menurut Jenis Pekerjaan

Leptospirosis lebih tinggi pada pekerja di bidang pertanian karena mengingat bahwa bidang petanian sangat terkait dengan air sedangkan air merupakan media yang cocok dalam penularan agen penyebab pena,kit leptospirosis.

2. Distribusi Frekuensi Penyakit Leptospirosis Menurut Waktu Di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara

Leptospirosis cenderung lebih tinggi pada bulan September karena pada bulan September adalah masa panen padi. Laki-laki yang bekerja kurang melindungi diri mereka, misalnya dalam bekerja mereka sering bekerja dalam keadaan telanjang kaki dan bekerja dalam keadaan tangan tanpa dilindungi oleh sarung tangan. Oleh karena itu kaki dan tangan dapat terluka oleh daun padi yang telah dewasa. Di samping itu mereka juga menggunakan kuda untuk mengangkut hasil panen beras dan berenang dalam kolam khususnya di hari yang panas.

3. Distribusi Frekuensi Penyakit Leptospirosis Menurut Tempat Di Wilayah Provinsi Guilan, Iran Utara tahun 2006

Penderita penyaikt leptospirosis cenderung lebih tinggi terdapat di daerah Rasht, karena daerah ini merupakan daerah pedesaan. Di daerah pedesaan mayoritas penduduknya adalah petani yang merupakan pekerjaan utama dari sebagian besar orang dan peternakan sapi adalah kegiatan kedua. Mereka biasanya menyimpan ternak untuk mengambil produk susu, kuda untuk membawa berat badan, dan anjing untuk keamanan. Semua hewan peliharaan yang dirilis di peternakan antara dua musim pertanian. Ada juga banyak satwa liar, khususnya serigala, babi hutan, dan tikus yang tinggal di dekat desa. Sebagian besar dari binatang-binatang tersebut sangat berpotensi dalam menularkan penyakit leptospirosis.

BAB V

KESIMPULAN

Dari uraian tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan- kesimpulan sebagai :

  1. Penyakit leptospirosis cenderung lebih banyak diderita oleh kelompok umur 20 - 50 tahun. Dari seluruh kasus positif penderita leptospirosis sekitar 65% yang berada pada rentan usia 20- 50 tahun.
  2. Penyakit leptospirosis lebih banyak diderita oleh laki-laki, 63,7% dari 769 kasus positif leptospirosis adalah laki-laki.
  3. Penyakit leptospirosis lebih banyak diderita oleh para petani, 86,4% dari 769 kasus positif leptospirosis adalah para petani.
  4. Penyakit leptospirosis cenderung tinggi pada bulan september, 40,9% dari 769 kasus positif leptospirosis berada pada bulan September.
  5. Penyakit leptospirosis cenderung tinggi pada wilayah Rasht , 36,0% dari 769 kasus positif leptospirosis berada pada wilayah Rasht.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar